Menangis
Karena Allah
Pernahkah kita berpikir atau
bertanya pada diri kita sendiri, mengapa hati kita cenderung tertarik dengan
dosa-dosa dan menjauh dari pahala?
Mengapa ketika banyak peringatan
yang datang, tidak membuat kita atau hati ini jera berbuat nista? Mengapa hati
ini selalu bosan bahkan benci dengan hal-hal yang dicintai oleh Sang Khaliq,
Allah سبحانه وتعلى?
Mengapa hati ini senang sekali terbuai dengan kemewahan dunia yang fana dan
melupakan kemewahan kampung akhirat yang kekal?Mengapa hati ini membuat mata
menjadi sangat sulit melelehkan air mata?
serta menangis karena-Nya?IDi
manakah kelembutan hati ini untuk bertaqarrub kepada Allah
?ILari kemanakah hati ini dari
berzikir kepada Allah
?UApakah yang menyebabkan hati ini
gersang dan keruh untuk selalu mengingat Sang Kekasih, Allah
Dan di manakah posisi kita dari orang-orang yang disebutkan oleh Allah سبحانه
وتعلى dalam firman-Nya,
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al
Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil
bersujud. Dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji
Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil
menangis dan mereka bertambah khusyu'." (QS. Al Isra': 107-109).
Ketika hati tidak lagi tersentuh oleh lantunan indah ayat-ayat suci Al Qur'an
dan lebih cenderung mengonsumsi nyanyian-nyanyian cengeng dan berisi maksiat,
maka saat itulah hati menjadi keras membatu dan tak dapat melelehkan air mata
di kala mengingat dosa-dosa dan peringatan tentang neraka Allah سبحانه وتعلى.
Dan di saat itu pulalah, shalat tak lagi terasa nikmat. Munajat tak lagi manis
dan hanya jadi aktifitas harian kita sebagaimana aktifitas di kantor, sekolah,
kampus, atau lapangan akitifitas lainnya.
Hal ini bisa menimpa siapa saja bila tidak teliti dalam pelaksanaan ibadah
kepada Allah سبحانه وتعلى, entah itu pada masalah niat ataukah gerakan-gerakan
dalam pelaksanaan tersebut. Namun yang paling pokok dalam masalah tersebut
adalah pada masalah niat, yang mana isinya adalah keikhlasan yang melahirkan
kelembutan hati lalu diiringi dengan tangisan karena Allah سبحانه وتعلى semata.
Apa Itu Kelembutan Hati?
Para ahli hadits telah menulis sejumlah karya mereka dengan menggunakan istilah
atau lafal ar-riqqah, dan memberikan tempat atau bab khusus tentang hal
tersebut dalam buku-buku mereka. Mereka menuliskannya dengan judul,
"Kitabur Raqaaiq" atau "ar-Riqaaq". Dan tokoh mereka dalam
hal ini adalah imam seluruh ahli hadits, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al
Bukhari—rahimahullah.
Lafal ar-raqaaiq atau ar-riqaaq merupakan bentuk plural dari kata
"raqiiqah". Hadits-hadits tertentu dikatakan ar-raqaaiq karena di
dalam setiap hadits-hadits tersebut terdapat hal yang dapat membuat hati
menjadi lembut.
Para ahli bahasa berkata, "Kata ar-riqqah bermakna ar-rahmah (kasih
sayang), dan lawan katanya adalah al ghilzhah (kekerasan hati)."
Imam ar-Raghib al Ashfahani—rahimahullah—berkata, "Apabila sifat ar-riqqah
(kelembutan) dipakai untuk perangai jiwa, maka kebalikannya adalah "al
qaswah" (keras hati), seperti raqiiqul qalbi dan qaasil qalbi keduanya
bermakna "berhati keras". (Lihat Fathul Bari juz 11 hal. 233).
Buah Kelembutan Hati
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
وَإِنَّ
فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ
فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْب
ُ
"Dan sesungguhnya, di dalam
jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh
jasadnya. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh jasad itu.
Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Bukhari dan
Muslim).
Hati yang terdidik di atas ketaatan kepada Sang Mahapengasih akan menjadikan
pemiliknya bersifat lemah lembut dan sangat mudah menangis. Dan hal itu
disebabkan karena permohonannya yang ikhlas kepada Rabb-nya agar memiliki sifat
kelembutan hati untuk melelehkan air mata.
Karenanya, ketika alunan ayat-ayat suci Al Qur'an terlintas di pendengaran
orang-orang shaleh, mereka lalu meresapinya hingga masuk ke dalam lubuk hati
mereka. Maka pada saat itulah hati mereka bereaksi untuk melelehkan air mata.
Walaupun yang mereka dengar hanya sepenggal ayat.
Maka di manakah kita dari orang-orang
seperti mereka?
Mungkin kita pernah menangis, atau bahkan sering menangis. Tapi itu bukan
karena Allah, mungkin karena kehilangan harta, sakit yang diderita, kerabat
yang meninggal, atau bisa jadi untuk menarik perhatian manusia, dan sebagainya.
Memang, masalah tangis adalah persoalan yang sangat sulit dilakukan oleh
orang-orang yang memiliki hati yang gersang, keruh, dan kotor. ITerlebih lagi hati yang telah keras membatu dari peringatan
Allah berupa ancaman neraka. Sebagaimana
firman Allah سبحانه وتعلى,
ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ
قَسْوَةً
"Kemudian setelah itu hatimu
menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS. Al Baqarah:
74).
Hal ini dapat dijumpai pada orang-orang yang hatinya sedang lalai dari pengawasan
Allah سبحانه وتعلى.
Masalah ini tidak hanya menimpa orang-orang awam atau orang yang tidak kenal
agama ini, tetapi juga bisa menimpa para aktifis dakwah, penuntut ilmu syar'i,
bahkan ulama sekalipun, karena tidak mengamalkan ilmu mereka dengan baik. Beribadah
hanya karena ingin dikatakan sebagai ahli ibadah, orang alim dan lain
sebagainya.
Sebab-sebab Lembutnya Hati
1. Memelihara hati dari penyimpangan dan dosa
Dalam bahasa Arab, hati dinamakan dengan al qalbu, karena sifat dan keadaannya
yang senantiasa berubah-ubah. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah صلى
الله عليه وسلم ,
مَثَلُ
الْقَلْبِ كَرِيشَةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ تُُقَلِّبُهَا الرِّيحُ
"Perumpamaan hati seperti
bulu-bulu di tengah tanah lapang yang dihembus angin (hingga beterbangan) (HR.
Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al Albani).
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah
berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba menempuh jalan menuju
Allah سبحانه وتعلى dengan hati dan tekad bajanya, dan bukan dengan fisiknya.
Hakekat takwa adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan.
Sebab Allah سبحانه وتعلى berfirman,
artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya." (QS. Al Hajj: 37). Sedangkan posisi takwa itu adalah di
hati. Maka orang yang cerdik adalah orang yang menempuh perjalanan (menuju
Allah) dengan bekal tekad yang benar, cita-cita yang tinggi serta membersihkan
dan menjernihkan niatnya diikuti amal. Hal itu sangat jauh berbeda dengan perjalanan
yang ditempuh oleh orang yang sama sekali tidak membekali dirinya dengan
sifat-sifat tersebut meski dibarengi dengan jerih payah dan kerja keras. Melaju
menuju Allah adalah tekad bulat, bertujuan yang benar serta keinginan yang
membara.
2. Melepas hati dari jerat dunia
Manusia senantiasa sibuk dengan kemewahan, hiruk-pikuk, dan permainan dunia.
Padahal yang sibuk dengannya adalah hati. Bukan jasmani. Bukan pula segenap
anggota badan. Meskipun yang langsung bereaksi dengannya adalah fisik dan anggota
badan. Tapi, hatilah yang sebenarnya terjerat, yang senantiasa sibuk dengan
kemewahan dunia dan mencintainya.
Orang yang hatinya telah terjerat
dan terpenjara oleh nikmatnya dunia, ia merasa seakan tidak diciptakan di dunia
ini kecuali untuk menghimpun dan menguasainya. Tidaklah ia dilahirkan kecuali
untuk meraih kenikmatannya, baik yang halal maupun yang haram. Sehingga hal itu
melenakannya dari kewajiban-kewajibannya dan hak-hak orang lain.
Adapun orang yang meletakkan dunia
hanya di tangannya, maka berbahagialah orang yang berbuat demikian. Mereka
adalah para pendahulu (salaf) umat ini. Di mana dunia justru dilapangkan kepada
mereka dan dihimpunkan bagi mereka, tapi itu semua hanya berada sebatas di
tangan mereka. Sebab itu, kehidupan mereka yang zuhud terhadap dunia patut
diteladani.
Di antara mereka adalah Abdurrahman
bin 'Auf Radhiyallahu Anhu, berikut ini adalah kisah teladan beliau:
Suatu ketika beliau sedang
menghadapi hidangan untuk berbuka puasa, ia berkata, "Mush'ab bin 'Umair
ketika terbunuh sedang ia lebih baik dariku tak didapati kain kafan yang cukup
untuk membalut tubuhnya, kecuali selembar kain burdahnya. Jika ditutupkan di
kepalanya, kedua kakinya nampak, dan jika yang ditutup adalah kakinya, maka
kepalanya yang terlihat. Sedangkan aku telah dikaruniai dengan harta yang
begitu luasnya", atau ia berkata, "Sedang aku diberi harta dunia yang
begitu banyaknya, sehingga aku merasa khawatir, rezki sebanyak itu sengaja
didahulukan oleh Allah untukku." Kemudian ia menangis sesenggukan, lalu
meninggalkan makanan itu.Wallahul Haadi Ilaa Sabiilir Rasyaad, Abu Umair
Adiningrat al Bahari (Al Fikrah)
Sumber: Kiat Melembutkan Hati dan
Menangis karena Allah, oleh Abdul Karim bin Abdul Majid ad-Diwaan
Menangis… Beginilah Para Sahabat Menangis
Seorang ikhwah mengeluhkan, ada
kehilangan yang ia rasakan antara beberapa tahun lalu ketika ia aktif di dakwah
kampus dengan hari-hari ini dalam medan dakwah yang berbeda. Diantaranya adalah
menangis. Ikhwah lain membenarkan. “Dulu, begitu mudah kita menangis ketika
mabit, mendengar taujih, dan hampir di semua acara tarbawi lainnya,” katanya
mengenang.
Entah mengapa, beberapa waktu
terakhir ia susah mengeluarkan air dari mata yang sama. Dan ternyata bukan dua
ikhwah itu saja yang mengalaminya.
Menangis, menangis karena Allah,
menyesali dosa, takut neraka, mengadu padaNya akan beratnya beban, merisaukan
nasib umat yang tengah diperjuangkan, atau bersedih atas kondisi kaum muslimin
di kawasan, adalah bagian tazkiyah yang harusnya tetap bertahan dalam dakwah.
Mungkin tidak terbayang bagi orang-orang yang keras hati, bahwa bulir-bulir
bening itu akan membasahi pipi. Namun demikianlah, menangis telah dicontohkan
Sang Nabi dan para sahabatnya, generasi terbaik umat ini.
“Takkan masuk neraka orang yang
menangis karena Allah…” demikian Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Tirmidzi.
Pada kesempatan lain, manusia mulia
itu menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada
hari yang tiada naungan kecuali naungannya. Dari riwayat Al-Bukhari dan Muslim
kita mendapatkan kabar gembira. Bahwa salah satu dari tujuh golongan itu adalah
“orang yang ingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya berlinang.”
Pada kesempatan berbeda, beliau
juga mengabarkan keutamaan menangis yang sangat luar biasa. “Dua mata yang tak
tersentuh api neraka,” sabda Sang Nabi yang direkam Tirmidzi, “mata yang
menangis karena takut pada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah”
Rasulullah pernah meminta Ibnu
Mas’ud membacakan Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud kala itu membaca surat An-Nisa’.
Ketika sampai pada ayat 41, Rasulullah menyuruhnya berhenti sambil berlinang
air mata membasahi pipi.
Para sahabat adalah generasi yang
banyak menangis. Para ahlus suffah rela hidup miskin asalkan bisa lebih dekat
kepada Allah dan dapat menyimak hadits Nabi. Ketika turun ayat tertentu, hati
mereka bergetar, air mata perlahan keluar. Seperti saat itu, turunlah surat
An-Najm ayat 59-60. Nabi menangis, para sahabat ahlus suffah yang ada di sana
juga menangis.
Umar bin Khatab membaca surat
Yusuf. Ketika sampai di ayat 86, sahabat Nabi yang kekar, tegap dan ksatria itu
menangis sejadi-jadinya. Tenggorokannya seperti tercekik. lalu Umar yang
ditakuti syetan itu terjatuh dan demam.
Suatu hari Ibnu Umar membaca surat
Al-Muthaffifin, ketika sampai di ayat 6, ia terhenti lama sekali karena
tangisnya yang panjang tak kunjung reda
Selain menangis ketika mentadaburi
Al-Qur’an, para sahabat juga mudah menangis ketika mengingat akhirat, alam
barzah dan kematian.
Utsman bin Affan yang dermawan dan
ahli sedekah, jika melewati kuburan menangis hingga janggutnya basah. “Kubur
itu adalah gerbang akhirat,” katanya, “jika disiksa di sana disiska pula kita
di neraka”
Abu Hurairah menangis di kala
sakitnya. Ketika ditanya ia menjawab, “Bukan dunia yang kutangisi, tapi
panjangnya perjalanan yang akan kuhadapi dan sedikitnya bekal yang kubawa ke
akhirat nanti.”
Memuhasabahi dirinya, membuat para
sahabat menangis. Mereka khawatir ada penyakit hati dalam dirinya, padahal
mereka adalah orang-orang yang paling mulia.
Umar pernah mendapati Muadz bin
Jabal menangis seorang diri. Ternyata Muadz menangis karena mentadaburi hadits
tentang riya’ lalu ia khawatir penyakit itu hinggap di hatinya.
Salman al Farisi menangis menjelang
wafatnya. Ia takut tak bisa memenuhi nasehat Nabi untuk zuhud dalam hidup ini.
Padahal harta Salman saat itu hanyalah ember untuk mencuci dan mandi.
Tidak mendapati cita-cita akhiratnya
tercapai juga membuat sahabat seperti Khalid bin Walid menangis. Air mata yang
terus mengalir membuat Khalid tak bisa tidur menjelang wafatnya. “Aku ingin
mati syahid,” kata panglima perang tak terkalahkan itu, “tapi kini aku akan
mati di atas tempat tidur seperti matinya unta”
Bahkan, kekayaan ataupun kemenangan
juga membuat sahabat menangis. Mereka khawatir jika kekayaan atau kemenangan
itu justru menjadi sebab kecelakaan di masa yang akan datang; baik di dunia ini
maupun di akhirat negeri abadi.
Abdurrahman bin Auf menangis karena
kekayaannya. Ia justru iri dengan Mushab, dai muda yang dianggapnya lebih baik
dari dirinya; Begitu miskinnya hingga kain kafan Mush’ab di hari syahidnya tak
cukup menutup seluruh tubuhnya.
Ketika wilayah Islam bertambah, Abu
Darda justru menangis Jubair yang bertanya dijawabnya: “Jika mereka ingkar
hukum Allah, kelak akan dituai hasilnya”
Jika demikian halnya, bukankah
terlalu banyak sebab bagi kita untuk bisa menangis. Namun mengapa? Kita
berlindung kepada Allah dari hati yang mengeras dan kalbu yang tidak ikhlas.

Muhasabah
Menangis Karena Takut kepada Allah
Menangis Hanya Karena Allah
Sufyan berkata: “Menangis itu ada 10 macam, yakni 9
karena selain Allah dan satu karena Allah. Bila menangis karena Allah itu
datang sekali dalam setahun, maka itu sudah terbilang banyak.” [Hilyatul
Auliya' 7/11]
Anjuran Menangis Karena Allah
Qasamah bin Zuhair berkata, “Abu Musa pernah berkhotbah
di kota Bashrah. Ia berkata, “Wahai manusia, menangislah. Jika kalian tidak
bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis. Karena penghuni Neraka akan
menangis dengan mengeluarkan air mata sampai habis. Kemudian mereka akan
menangis dengan mengeluarkan air mata darah. Bahkan seandainya di situ
dilepaskan beberapa perahu, pastilah akan bisa berjalan.” [Hilyatul Auliya'
1/261]
Keutamaan Menangis Karena Allah
Ka’bul Ahbar berkata, “Sungguh, aku lebih suka menangis
karena Allah, lalu air mataku mengalir diatas pipiku, daripada bersedekah
dengan emas seberat timbanganku.” [Hilyatul Auliya' 5/366]
Buah Dari Menangis Karena Allah
Wuhaib bin Ward berkata, “Yahya bin Zakariya ‘alaihis
salam memiliki dua garis dipipinya akibat menangis.” Kemudian ayahnya, Zakariya
‘alaihis salam berkata, “Sungguh, aku hanya meminta kepada Allahs eorang anak
yang bisa menjadi penyejuk mataku.” Yahya ‘alaihis salam berkata, “Ayah,
sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam memberitahuku bahwa diantara Surga dan
Neraka ada sebuah gurun yang hanya bisa dilalui oleh orang yang rajin
menangis.” [Hilyatul Auliya' 8/149]
Macam-Macam Tangisan
Yazid bin Maisaroh berkata, “Tangisan itu berasal dari
tujuh hal: gembira, sedih, cemas, sakit,riya’, syukur, dan tangisan karena
takut kepada Allah. Inilah tangisan yang tetesan air matanya bisa memadamkan
api sebesat gunung.” [Hilyatul Auliya' 5/235]
Cara Mengundang Tangisan
Shalih al-Murri berkata, “Tangisan itu bisa diundang
dengan cara memikirkan dosa, jika direspons positif oleh hati. Jika tidak, maka
alihkan kepada kengerian dan kedahsyatan hari Kiamat, jika direspons positif.
Jika tidak, maka tawarkanlah kepadanya untuk berguling-guling di antara
nampan-nampan api (Neraka).” Kemudian ia pun menangis dan pingsan. Dan
orang-orang pun berteriak histeris. [Hilyatul Auliya' 6/167]
Orang-Orang Shalih Terdahulu Yang Menangis Karena Takut
Kepada Allah
1. Abdussalam (mantan budak Maslamah bin Abdul Malik)
berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, lalu Fathimah ikut menangis.
Namun mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Ketika mereka selesai
menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa anda menangis?” Umar
menjawab, “Fathimah, aku teringat hari dimana manusia dipisahkan dari hadapan Allah;
satu kelompok di dalam Surga dan kelompok lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia
berteriak dan pingsan. [Hilyatul Auliya' 5/269]
2. Apabila Umar bin Abdul Aziz mendengar pembicaraan
tentang kematian, maka tubuhnya menggelepar seperti burung dan menangis sampai
air matanya mengalir di jenggotnya.” [Hilyatul Auliya' 3/316]
3. Hani’ (mantan budak Utsman bin Affan) berkata,
“Apabila Utsman bin Affan berdiri di atas kuburan, ia menangis hingga
jenggotnya basa oleh air mata.” [Hilyatul Auliya' 1/61]
4. Malik bin Anas berkata, “Muhammad bin Munkadir
adalah penghulu para pembaca. Hampir setiap kali ada orang yang bertanya
kepadanya tentang hadits, ia selalu menangis.” [Hilyatul Auliya' 2/147]
5. Abu Ayyub al-A’raj berkata, “Sa’id bin Jubair selalu
menangis di malang hari sampai rabun.” [Hilyatul Auliya' 4/272]
6. Sa’id bin Jubair berkata, “Aku tidak pernah melihat
orang yang lebih perhatian terhadap kemuliaan Baitullah ini daripada orang
Bashrah. Pada suatu malam aku pernah melihat seorang wanita muda bergelayutan
pada tirai Ka’bah. Ia memanjarkan doa, menangis dan menghiba sampai meninggal
dunia.” [Hilyatul Auliya' 4/276]
7. Ali bin Abdillah berkata, Kami pernah bersama Yahya
bin Sa’id al-Qaththan. Ketika ia keluar dari masjid, kami pun keluar
bersamanya. Tatkala tiba di pintu rumahnya ia berdiri, dan kami pun berdiri.
Lalu ia berkata kepada seorang pria, “Bacalah!” Pria itu pun membaca surat
ad-Dukhan. Ketika ia mulai membaca aku melihat Yahya bin Sa’id berubah, hingga
ketika sampai pada ayat,
“Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang
dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]
Tiba-tiba Yahya menjerit dan pingsan. Ia baru siuman
setelah sekian lama. Kemudian kami menemuinya. Ternyata ia tengah tertidur di
atas pembaringannya serayas membaca, “Sesungguhnya hari keputusan itu adalah
waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]. Maka keadaan
itu terus berlangsung sampai ia meninggal dunia. [Hilyatul Auliya' 8/383]
Sumber: Disalin dari 1000 Hikmah Ulama Salaf,
Bab.Menangis Karena Allah, Hal. 335 dst, Penerbit Elba. by :
alqiyamah.wordpress.com
JALAN MENUJU MUHASABAH DIRI
Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata, “Seorang mukmin
itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya karena Allah
Ta’ala . Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang
telah mengadakannya di dunia. Dan sebaliknya hisab akan berat bagi kaum yang
menempuh urusan ini tanpa pernah berintrospeksi. Seorang mukmin itu bisa saja
dikejutkan oleh sesuatu dan ia takjub kepadanya. Lalu berkatalah ia, ‘Demi
Allah, aku benar-benar menginginkanmu. Begitupun kamu adalah bagian dari
kebutuhanku. Tetapi, allah tidak memberi alasan bagiku untuk mencapaimu. Duhai,
ada jurang diantara kau dan aku!’ Maka sesuatu itu pun lenyap dari hadapannya.
Kemudian si mukmin akan kembali kepada dirinya dan berkata, ‘aku tidak
menginginkan hal ini! Apa peduliku dengan semua ini! Demi Allah aku tidak akan
mengulanginya selama-lamanya!’ Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang
ditopang oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an menghalangi kehancurannya. Seorang mukmin
adalah tawanan di dunia yang berusaha membebaskan diri (menuju negerinya:
akhirat). Dia tidak merasa aman sampai berjumpa dengan Allah. Dia tahu bahwa
pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota badan, semuanya akan dimintai
pertanggungjawaban.”Malik bin Dinar bertutur,”Semoga Allah merahmati seseorang
yang berkata kepada diri (nafsu)nya, ‘Bukankah kamu pelaku ini? Bukankah kamu
pelaku itu?’ Lalu ia mencelanya dan mengalahkannya. Kemudian dia memulazamahkan
dirinya kepada kitab Allah, sehingga menjadi pemimpinnya.”
Adalah benar bagi setiap orang yang beriman kepada
Allah subhanahu wa taala dan hari akhir untuk tidak melupakan introspeksi
kepada nafsunya, menyempitkan ruang geraknya, dan menahan gejolaknya. Sehingga,
setiap hembusan nafas adalah mutiara yang bernilai tinggi, dapat ditukar dengan
perbendaharaan yang kenikmatannya tak akan pernah sirna sepanjang masa.
Menyia-nyiakan nafas ini, atau menukarnya dengan sesuatu yang mendatangkan
kecelakaan adalah kerugian yang sangat besar. Tidak dapat mentolerirnya kecuali
manusia paling bodoh dan paling tolol. Hanya saja, hakekat kerugian ini baru
benar-benar tampak nanti di hari kiamat.
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا
وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا
“Pada hari setiap jiwa mendapati segala kebaikan yang
dilakukannya dihadirkan dan juga segala kejahatan yang dilakukannya. Ia ingin
ada penghalang yang panjang antara dia dan kejahatannya.”(QS Ali Imran: 30)
Muhasabah (menginstrospeksi diri) itu ada dua macam,
sebelum beramal dan sesudahnya.
Muhasabah sebelum beramal yaitu hendaknya seseorang
berhenti sejenak, merenung di saat pertama munculnya keinginan untuk melakukan
sesuatu. Tidak bersegera kepadanya sampai benar-benar jelas baginya bahwa
melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.
Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata, “Semoga Allah
merahmati seorang hamba yang berpikir di saat pertama ia ingin melakukan
sesuatu. Jika itu karena Allah ia lanjutkan dan jika bukan karena-Nya ia
menangguhkannya.”
Sebagian ulama menjelaskan penuturan al-Hasan ini
dengan, ‘Apabila diri tergerak untuk melakukan sesuatu, pertama-tama ia harus
merenung, apakah amalan itu mampu ia kerjakan atau tidak. Jika tidak ada
kemampuan untuk itu hendaknya ia berhenti. Tetapi jika ia mampu, hendaknya ia
berpikir, apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya, ataukah
sebaliknya. Jika yang ada adalah kemungkinan kedua, maka ia mesti
meninggalkannya. Tetapi jika yang pertama, hendaknya ia bertanya, apakah faktor
pendorongnya adalah untuk mendapatkan wajah Allah subhanahu wa ta’ala dan
pahalanya, ataukah untuk mendapatkan kehormatan, pujian dan harta benda. Jika
jawaban yang kedua yang muncul, hendaknya ia meninggalkannya. Meskipun jika ia
melakukannya ia akan mendapatkan apa yang dicarinya. Ini sebagai pelatihan bagi
diri agar tidak terbiasa dengan kesyirikan dan supaya takut beramal untuk
selain Allah.
Semakin takut seseorang untuk beramal karena selain
Allah, semakin ringan baginya untuk beramal karena Allah subhanahu wa ta’ala.
Tetapi jika yang muncul adalah jawaban yang pertama, sekali lagi ia harus
bertanya, apakah dia mendapatkan bantuan untuk itu? Atau adakah teman-teman
yang akan membantu dan menolongnya- jika amalan itu tidak bisa dikerjakan
sendirian? Jika tidak ada, ia harus menahan diri sebagaimana Nabi shalallahu
alaihi wa sallam telah menahan diri dari memerangi musyrikin Mekah sampai
terkumpul kekuatan dan kaum penolong. Adapun jika ia dibantu, hendaknya ia maju
beramal, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala ia akan mendapat kemenangan. Dan
adalah kemenangan itu tidak akan terlepas kecuali jika salah satu dari
perkara-perkara di atas terlepas. Sekali lagi, dengan mengadakan hal-hal di
atas kemenangan tidak akan terlepas. Itulah empat perkara yang harus dicermati
oleh seorang hamba sebelum ia beramal.
Muhasabah sesudah beramal itu ada tiga:
1. Introspeksi diri atas berbagai ketaatan yang telah
dilalaikan, yang itu adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala. Bahwa ia telah
melaksanakannya dengan serampangan, tidak semestinya. Padahal hak Allah
subhanahu wata’ala berkaitan dengan satu bentuk ketaatan itu ada enam. Yaitu,
ikhlas dan setia kepada Allah subhanahu wa ta’ala di dalamnya, mengikuti
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, menyaksikannya dengan persaksian ihsan,
menyaksikannya sebagai anugerah Allah subhanahu wa ta’ala baginya, dan
menyaksikan kelalaian dirinya di dalam mengamalkannya. Demikian, ia harus
melihat apakah dirinya telah memenuhi keseluruhannya?
2. Introspeksi diri atas setiap amalan yang lebih baik
ditinggalkan daripada dikerjakan.
3. Introspeksi diri atas perkara yang mubah, karena apa
ia melakukannya. Apakah dalam rangka mengharap Allah subhanahu wa ta’ala dan
akhirat, sehingga ia beruntung? Ataukah untuk mengharapkan dunia dan
keserbabinasaannya, sehingga ia merugi?
Akhir dari perkara yang dilalaikan, tidak disertai
dengan muhasabah, dibiarkan begitu saja, dianggap mudah dan disepelekan adalah
kehancuran. Ini adalah keadaan orang-orang yang tertipu. Ia pejamkan matanya
dari berbagai akibat kebejatannya sambil berharap Allah subhanahu wa ta’ala
mengampuninya. Ia tidak pernah peduli kepada muhasabah dan akibat kejahatannya.
Pun jika ia melakukannya, dengan segera ia akan berbuat dosa, menekuninya dan ia
akan sangat kesulitan meninggalkannya.
Kesimpulan dari uraian ini, hendaknya seseorang itu
mengintrospeksi diri lebih dahulu pada hal-hal yang fardlu. Bila ia melihat ada
kekurangan padanya, ia akan melengkapinya dengan qadla’ (penggantian) atau
ishlah (perbaikan). Lalu kepada hal-hal yang diharamkan. Bila ia merasa pernah
melakukannya, ia pun bersegera untuk bertaubat, beristighfar, dan mengamalkan
perbuatan-perbuatan baik yang dapat menghapuskan dosa. Kemudian kepada
kealpaan. Bila ia mendapati dirinya telah alpa berkenaan dengan tujuan
penciptaannya, maka ia segera memperbanyak dzikir dan menghadap Allah subhahanu
wa ta’ala. Lalu kepada ucapan-ucapannya, atau kemana saja kakinya pernah
berjalan, atau apa saja yang tangannya pernah memegang, atau telinganya pernah
mendengar. Apa yang diinginkan dari semua ini? Mengapa ia melakukannya? Untuk
siapa? Dan sesuaikah dengan petunjuk?
Sesungguhnya setiap gerakan atau ucapan itu akan
dihadapkan pada dua pertanyaan, untuk siapa dikerjakan? dan bagaimana cara pengerjaannya?
Pertanyaan pertama tentang ikhlas dan yang kedua tentang mutaba’ah (kesesuaian
dengan sunnah)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Supaya (Allah) memintai pertanggungjawaban orang-orang
yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS Al-Ahzab 8).
Apabila orang-orang yang benar saja dimintai
pertanggungjawaban atas kebenarannya, dan dihisab atasnya, lalu bagaimana
dengan orang-orang yang dusta?
Faedah Muhasabah
1. Mengetahui aib diri
Barangsiapa tidak mengetahui aib dirinya sendiri, tidak
mungkin mampu membuangnya. Yunus bin ‘Ubaid berkata, “Aku benar-benar mendapati
seratus bentuk kebajikan. Tetapi kulihat, tidak ada satu pun yang ada pada
diriku.”
Muhammad bin Wasi’ berkata, “seandainya dosa-dosa itu
mempunyai bau, sungguh tidak ada seorang pun yang sanggup duduk di dekatku.”
Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Darda’ berkata, “Seseorang
itu tidak memahami agama ini dengan baik sampai ia membenci orang lain karena
Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian ia kembali kepada nafsunya dan ia lebih
membencinya lagi.”
2. Mengetahui hak Allah terhadapnya.
Hal itu akan membuatnya mencela nafsunya sendiri serta
membebaskannya dari ujub dan riya’. Juga membukakan pintu ketundukan,
penghinaan diri, kepasrahan dihadapan-Nya, dan keputusasaan terhadap dirinya
sendiri. Sesungguhnya keselamatan itu hanya dapat dicapai dengan ampunan dari
Allah subhanahu wa ta’ala dan rahmat-Nya. Merupakan hak Allah subhanahu wa
ta’ala untuk ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta
disyukuri dan tidak dikafiri.
Diambil dari: Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa
Menurut Para Salaf; Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam
Ghazali; Penerbit Pustaka Arafah (http://jilbab.or.id/)
Umar Al Faruq berkata :
حَاسِبُوا أنْفُسَكُم قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُا وَزِنُوْهَا
قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا وَ تَزَيَّنُوا لِلعَرْضِ الأَكْبَر
Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah
diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan berhiaslah (beramal shalihlah) untuk
persiapan hari ditampakkannya amalan hamba. [At Tirmidzi dalam Shifatul
Qiyamah]
Hakikat muhasabah ialah, menghitung dan membandingkan
antara kebaikan dan keburukan. Sehingga, dengan perbandingan ini diketahui mana
dari keduanya yang terbanyak. [Ibnu Qoyyim]
Ibnu Mas’ud berkata,”Cukuplah sesorang itu berdosa jika
dikatakan kepadanya “bertakwalah kepada Allah”, lantas ia berkata ‘Urus dirimu
sendiri, orang seperti kamu mau menasihatiku?”
Pada suatu hari Khalifah Harun Ar Rasyid keluar naik
kendaraan untanya yang mewah dan penuh hiasan, lalu seorang Yahudi berkata
kepadanya: “Wahai, Amirul Mukminin. Bertakwalah engkau kepada Allah,” maka
beliaupun turun dari kendaraannya dan sujud kepada Allah di atas tanah dengan
penuh tawadhu` dan khusyu. Khalifah kemudian memerintahkan agar kebutuhan orang
Yahudi tersebut dipenuhi.
Tatkala ditanyakan mengapa Khalifah memerintahkan
demikian, beliau menjawab: “Tatkala saya mendengar perkataan orang Yahudi
tersebut, saya teringat firman Allah :
وَإِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللهَ أَخَذَتْهٌ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ
فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada
Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka
cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sesungguhnya Jahannam itu tempat
tinggal yang seburuk-buruknya”. [Al Baqarah ayat 206-], maka saya khawatir,
saya adalah orang yang disebut Allah tersebut. [Ramadhan Fursah Lit Taghyir, hlm.
13-14]
Hasan al-Bashri berkata, “Seorang mukmin itu pemimpin
bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya karena Allah. Sesungguhnya
hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah mengadakannya
di dunia. Dan sebaliknya hisab akan berat bagi kaum yang menempuh urusan ini
tanpa pernah berintrospeksi. Seorang mukmin itu bisa saja dikejutkan oleh
sesuatu dan ia takjub kepadanya. Lalu berkatalah ia, ‘Demi Allah, aku
benar-benar menginginkanmu. Begitupun kamu adalah bagian dari kebutuhanku.
Tetapi, allah tidak memberi alasan bagiku untuk mencapaimu. Duhai, ada jurang
diantara kau dan aku!’ Maka sesuatu itu pun lenyap dari hadapannya. Kemudian si
mukmin akan kembali kepada dirinya dan berkata, ‘aku tidak menginginkan hal
ini! Apa peduliku dengan semua ini! Demi Allah aku tidak akan mengulanginya
selama-lamanya!’ Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang ditopang oleh
Al-Qur’an. Al-Qur’an menghalangi kehancurannya. Seorang mukmin adalah tawanan
di dunia yang berusaha membebaskan diri (menuju negerinya: akhirat). Dia tidak
merasa aman sampai berjumpa dengan Allah. Dia tahu bahwa pendengaran,
penglihatan, lisan, dan anggota badan, semuanya akan dimintai
pertanggungjawaban.” Hilyatul Auliya` (2/157)
Malik bin Dinar bertutur,”Semoga Allah merahmati
seseorang yang berkata kepada diri (nafsu)nya, ‘Bukankah kamu pelaku ini?
Bukankah kamu pelaku itu?’ Lalu ia mencelanya dan mengalahkannya. Kemudian dia
memulazamahkan dirinya kepada kitab Allah, sehingga menjadi pemimpinnya.”
Ibnul Qayyim menjelaskan,”Namun, muhasabah ini akan
terasa sulit bagi orang yang tidak memiliki tiga perkara, yaitu cahaya hikmah,
berprasangka buruk kepada diri sendiri dan (kemampuan) membedakan antara nikmat
dan fitnah (istidraj).”
Pertama : Cahaya hikmah, yaitu ilmu; yang dengannya
seorang hamba bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan
kesesatan, manfaat dan mudharat, yang sempurna dan yang kurang, kebaikan dan
keburukan. Dengan demikian, ia bisa mengetahui tingkatan amalan yang ringan dan
yang berat, yang diterima dan yang ditolak. Semakin terang cahaya hikmah ini
pada seseorang, maka ia akan semakin tepat dalam perhitungannya (muhasabah).
Kedua : Adapun berprasangka buruk kepada diri sendiri
sangat dibutuhkan (dalam muhasabah). Karena berbaik sangka kepada jiwa, dapat
menghambat kepada sempurnanya pemeriksaan jiwa; sehingga bisa jadi, ia akan
memandang kejelekan-kejelekannya menjadi kebaikan, dan (sebaliknya) memandang
aibnya sebagai suatu kesempurnaan. Dan tidaklah berprasangka buruk kepada
dirinya, kecuali orang yang mengenal dirinya. Barangsiapa yang berbaik sangka
kepada jiwanya, maka ia adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya sendiri.
Ketiga : Adapun (kemampuan) membedakan antara nikmat
dan fitnah, yaitu untuk membedakan antara kenikmatan yang Allah anugerahkan
kepadanya -berupa kebaikanNya dan kasih-sayangNya, yang dengannya ia bisa
meraih kebahagiaan abadi- dengan kenikmatan yang merupakan istidraj dari Allah.
Betapa banyak orang yang terfitnah dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam
dalam kenikmatan, sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah, Pen),
sedangkan ia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian
orang-orang bodoh, tertipu dengan kebutuhannya yang selalu terpenuhi dan aibnya
yang selalu ditutup oleh Allah. Kebanyakan manusia menjadikan tiga perkara
(pujian manusia, terpenuhinya kebutuhan, dan aib yang selalu tertutup) ini
sebagai tanda kebahagiaan dan keberhasilan. Madarijus Salikin (1/ 321-324)
Ali bin Abi Thalib berkata: “Hendaklah kalian lebih
memperhatikan agar amal kalian diterima (setelah beramal), dari pada perhatian
kalian terhadap amalan kalian (tatkala sedang beramal). Apakah kalian tidak
mendengar firman Allah إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
(Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa – [Al Maidah
: 27].
Fadhalah dia berkata: “Saya mengetahui, bahwa Allah
menerima amalan saya walaupun sekecil biji sawi lebih saya sukai, daripada
dunia dan seisinya, karena Allah berfirman : Sesungguhnya Allah hanya menerima
dari orang-orang yang bertakwa. [Al Maidah : 27]”. Ibnu Rajab Wazdaif
Ramadhan/73
Abu Darda berkata,”Saya mengetahui, bahwa Allah telah
menerima dariku satu shalat saja lebih aku sukai dari pada bumi dan seluruh
isinya, karena Allah berfirman : Sesungguhnya Allah hanya menerima dari
orang-orang yang bertakwa. [Al Maidah : 27]”
Hasan al-Bashri berkata, “Semoga Allah merahmati
seorang hamba yang berpikir di saat pertama ia ingin melakukan sesuatu. Jika
itu karena Allah ia lanjutkan dan jika bukan karena-Nya ia menangguhkannya.”
‘Atha` As Sulami berkata,”Waspadalah, jangan sampai
amalanmu bukan karena Allah.”
Abdulaziz bin Abi Ruwwad berkata,”Aku mendapati mereka
(para salaf) sangat bersungguh-sungguh tatkala beramal shalih. Namun jika
mereka telah selesai beramal, mereka ditimpa kesedihan dan kekhawatiran apakah
amalan mereka diterima atau tidak?” Tafsir Ibnu Katsir, surat Al Maidah : 27
Syaikh Abu Madin: “Barangsiapa yang merealisasikan
ibadahnya, maka dia akan memandang amal perbuatannya dengan kacamata riya’. Dia
memandang keadaannya dengan pengakuan belaka, dan memandang perkataannya dengan
kedustaan belaka. Semakin besar apa yang engkau harapkan di hatimu, maka akan
semakin kecil jiwamu di hadapanmu, dan semakin sedikit pula nilai pengorbanan
yang telah engkau keluarkan demi meraih harapanmu yang besar. Semakin engkau
mengakui hakikat rububiyah Allah dan hakikat ‘ubudiyah, serta semakin engkau
mengenal Allah dan mengenal dirimu sendiri, maka akan semakin jelas bagimu,
bahwa apa yang ada pada dirimu berupa amal ketaatan, tidaklah pantas untuk
diberikan kepada Allah. Walaupun engkau datang dengan membawa amalanmu (yang
beratnya seperti amalan seluruh) jin dan manusia, maka engkau akan tetap takut
dihukum Allah (karena engkau takut tidak diterima, Pen). Sesungguhnya Allah
menerima amalanmu karena kemurahan dan kemuliaan serta karuniaNya kepadamu. Dia
memberi pahala dan ganjaran kepadamu, juga karena kemuliaan, kemurahan dan
karuniaNya. Madarijus Salikin, 1/327-330
sumber : www.suaraquran.com
Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Selamat
sore.
Terima
kasih Salam dan Doanya.
Selagi mampu, ada peluang, ada fasilitas, harus ada
kemauan untuk mancari langkah-langkah kecil yang besar manfaatnya bagi orang
banyak.
Semangat
terus untuk berbagi, dengan berbagi tidak akan
mengurangi yang kita punya, malah sebaliknya.
Selamat
beraktifitas, semoga selalu berada dalam Berkah dan Lindungan dari ALLAH
Subhanahu Wa Ta’ala..
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis
karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk
kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wa sallam juga bersabda, “
Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh
Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1]
seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan]
beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di
masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan
berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan
kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan,
‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara
sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan
oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian
sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari
[629] dan Muslim [1031]).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wa sallam juga bersabda, “
Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh
api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang
berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.”
(HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi
[1338]).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua
jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena
perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang
[berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh
yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi
karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR.
Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi
[1363])
Abdullah bin Umar
radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah
itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.
Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah
mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua
pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas
yang besarnya seukuran tubuhku.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu
mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata
kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai
Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu
diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang
mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya
surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang
artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan
Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka
beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada
beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari
[4763] dan Muslim [800]).
Dari Ubaidullah bin Umair
rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha,
“Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling
membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka
‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata,
‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada
Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat
dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’
Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian
mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus
menangis sampai-sampai
basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk
[dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun
basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis
sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena
tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan
shalat (Subuh). Ketika dia melihat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai
Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah
berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak
ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun
sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak
merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR.
Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih
at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).
Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu
ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang
membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla hanya
mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan masuk ke
dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku di
antara kedua golongan itu?”.
al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun
pernah menangis, dan ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka
beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam
neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”
Abu Musa al-Asya’ri
radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah di Bashrah, dan di dalam
khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka beliau pun menangis sampai-sampai
air matanya membasahi mimbar! Dan pada hari itu orang-orang (yang mendengarkan)
pun menangis dengan tangisan yang amat dalam.
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu
menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa
yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara
dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya
perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara
bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku
tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.
Suatu malam al-Hasan al-Bashri
rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya
membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya
mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka
aku pun menangis.”
Saya [penyusun artikel] berkata:
Kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa yang
diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah
dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki?
Laa
haula wa laa quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita
dibandingkan dengan
akhlak para
salafush shalih? Beginikah seorang salafi, wahai saudaraku? Tidakkah dosamu
membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? “
Apakah mereka tidak mau bertaubat
kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun
lagi Maha penyayang.” (lihat QS. al-Maa’idah : 74).
Aina nahnu min haa’ulaa’i? Aina
nahnu min akhlagis salaf? Ya akhi, jadilah salafi sejati!
Disarikan dari al-Buka’ min Khas-yatillah,
asbabuhu wa mawani’uhu wa thuruq tahshilihi, hal. 4-13 karya Abu Thariq Ihsan
bin Muhammad bin ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit, berupa file word.
Menangis Karena Takut Kepada Allah
Tidak selalu menangis itu menunjukkan kecengengan atau kelemahan. Islam
malah memerintah kita untuk banyak menangis. Kok bisa? Allah SWT
berfirman :
Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah
kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.
(TQS. Maryam [19]: 58)
Menangis yang disunnahkan dalam Islam,
tentu saja bukan asal menangis, tapi menangis karena takut kepada Allah
SWT. Sudah seharusnya kita takut kepada Allah SWT. Kita takut kepada-Nya
karena Allah SWT adalah Maha Besar dan Perkasa.
kita takut
kepada-Nya karena kita semua akan mengalami kematian dan akan
mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada-Nya. Kita takut karena
teringat siksa-Nya sangat keras bagi yang melakukan maksiat. Takut
kepada-Nya kalau tidak dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh dengan
kenikmatan.
Namun berbeda takut kepada binatang buas yang membuat
kita lari menjauh. Takut kepada Allah justru membuat kita ingin mendekat
lebih dekat dan lebih dekat lagi kepadanya. Takut yang membawa
ketenangan dan kenikmatan rohani yang tiada tara.
Rosulullah SAW
sendiri adalah orang yang paling gampang menangis karena takut kepada
Allah SWT. Dari Abdullah bin Syukhair ra. ia berkata: Aku mendatangi
Rasulullah saw. pada saat beliau sedang shalat. Di perut beliau terdapat
suara mendidih -seperti mendidihnya kuali- karena menangis. Demikian
pula sahabat Rosulullah SAW Abu Bakar ra. sangat gampang menangis saat
membaca al Qur’an.
Menangsi karena takut kepada Allah SWT, akan
membuat kita dekat dengan Allah dan berusaha selalu mencintai-Nya dengan
sepenuh daya. Kita mencintai-Nya dengan melaksanakan seluruh
perintahNya menjauhi larangan-Nya. Tangis seperti inilah yang bisa
menyelamatkan kita dari api neraka. Dari Anas ra. bahwa Nabi saw ia
bersabda: Barang siapa mengingat Allah kemudian keluar air matanya
karena takut kepada Allah hingga bercucuran jatuh ke tanah, maka dia
tidak akan di siksa di Hari Kiamat kelak. (HR. Hakim)
Kita tentu
ingin menjadi orang-orang yang dilindungi dan dinaungi oleh Allah SWT di
hari akhir nanti. Hari dimana tidak ada pelindung kecuali naungan Allah
SWT. Dari Abi Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Ada
tujuh golongan yang Allah akan menaunginya pada saat tidak ada naungan
kecuali naungan Allah. Yang ketujuh adalah: Manusia yang berdzikir
kepada Allah saat tidak dilihat siapapun, kemudian bercucuran air
matanya. (Mutafaq 'alaih)
Kita pantas merenung kalau kita tidak
pernah menangis karena Allah. Pasti ada yang salah pada diri kita.
Mungkin hati kita sudah mengeras, mungkin jiwa kita sudah kering. Karena
itu menangislah sebanyak-banyaknya karena takut kepada Allah , itu
menunjukkan jiwa kita masih lembut . Jiwa yang lembut dan peka akan
menyelamatkan kita. Karena itu, berusahalah selalu menangis karena
Allah.
(Ust. Hari Moekti)
https://www.facebook.com/notes/yamaha-motor-indonesia/menangis-karena-takut-kepada-allah/10151351293198327
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/hanya-kepada-mu-kami-berlindung
Menangis Karena Takut kepada Allah ...
Sufyan berkata: “Menangis itu ada 10 macam, yakni 9 karena selain Allah
dan satu karena Allah. Bila menangis karena Allah itu datang sekali
dalam setahun, maka itu sudah terbilang banyak.”
Anjuran Menangis Karena Allah
Qasamah bin Zuhair berkata, “Abu Musa pernah berkhotbah di kota
Bashrah. Ia berkata, “Wahai manusia, menangislah. Jika kalian tidak bisa
menangis, maka berusahalah untuk menangis. Karena penghuni Neraka akan
menangis dengan mengeluarkan air mata sampai habis. Kemudian mereka akan
menangis dengan mengeluarkan air mata darah. Bahkan seandainya di situ
dilepaskan beberapa perahu, pastilah akan bisa berjalan.”
Keutamaan Menangis Karena Allah
Ka’bul Ahbar berkata, “Sungguh, aku lebih suka menangis karena Allah,
lalu air mataku mengalir diatas pipiku, daripada bersedekah dengan emas
seberat timbanganku.”
Buah Dari Menangis Karena Allah
Wuhaib bin
Ward berkata, “Yahya bin Zakariya ‘alaihis salam memiliki dua garis
dipipinya akibat menangis.” Kemudian ayahnya, Zakariya ‘alaihis salam
berkata, “Sungguh, aku hanya meminta kepada Allah seorang anak yang bisa
menjadi penyejuk mataku.” Yahya ‘alaihis salam berkata, “Ayah,
sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam memberitahuku bahwa diantara Surga
dan Neraka ada sebuah gurun yang hanya bisa dilalui oleh orang yang
rajin menangis.”
Macam-Macam Tangisan
Yazid bin Maisaroh
berkata, “Tangisan itu berasal dari tujuh hal: gembira, sedih, cemas,
sakit, riya’, syukur, dan tangisan karena takut kepada Allah. Inilah
tangisan yang tetesan air matanya bisa memadamkan api sebesat gunung.”
Cara Mengundang Tangisan
Shalih al-Murri berkata, “Tangisan itu bisa diundang dengan cara
memikirkan dosa, jika direspons positif oleh hati. Jika tidak, maka
alihkan kepada kengerian dan kedahsyatan hari Kiamat, jika direspons
positif. Jika tidak, maka tawarkanlah kepadanya untuk berguling-guling
di antara nampan-nampan api (Neraka).” Kemudian ia pun menangis dan
pingsan. Dan orang-orang pun berteriak histeris.
Orang-Orang Shalih Terdahulu Yang Menangis Karena Takut Kepada Allah
1. Abdussalam (mantan budak Maslamah bin Abdul Malik) berkata, “Umar
bin Abdul Aziz pernah menangis, lalu Fathimah ikut menangis. Namun
mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Ketika mereka
selesai menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa anda
menangis?” Umar menjawab, “Fathimah, aku teringat hari dimana manusia
dipisahkan dari hadapan Allah; satu kelompok di dalam Surga dan kelompok
lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia berteriak dan pingsan.
2.
Apabila Umar bin Abdul Aziz mendengar pembicaraan tentang kematian, maka
tubuhnya menggelepar seperti burung dan menangis sampai air matanya
mengalir di jenggotnya.”
3. Hani’ (mantan budak Utsman bin Affan)
berkata, “Apabila Utsman bin Affan berdiri di atas kuburan, ia menangis
hingga jenggotnya basa oleh air mata.”
4. Malik bin Anas berkata,
“Muhammad bin Munkadir adalah penghulu para pembaca. Hampir setiap kali
ada orang yang bertanya kepadanya tentang hadits, ia selalu menangis.”
5. Abu Ayyub al-A’raj berkata, “Sa’id bin Jubair selalu menangis di malang hari sampai rabun.”
6. Sa’id bin Jubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih
perhatian terhadap kemuliaan Baitullah ini daripada orang Bashrah. Pada
suatu malam aku pernah melihat seorang wanita muda bergelayutan pada
tirai Ka’bah. Ia memanjarkan doa, menangis dan menghiba sampai meninggal
dunia.”
7. Ali bin Abdillah berkata, Kami pernah bersama Yahya bin
Sa’id al-Qaththan. Ketika ia keluar dari masjid, kami pun keluar
bersamanya. Tatkala tiba di pintu rumahnya ia berdiri, dan kami pun
berdiri. Lalu ia berkata kepada seorang pria, “Bacalah!” Pria itu pun
membaca surat ad-Dukhan. Ketika ia mulai membaca aku melihat Yahya bin
Sa’id berubah, hingga ketika sampai pada ayat,
“Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]
Tiba-tiba Yahya menjerit dan pingsan. Ia baru siuman setelah sekian
lama. Kemudian kami menemuinya. Ternyata ia tengah tertidur di atas
pembaringannya serayas membaca, “Sesungguhnya hari keputusan itu adalah
waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40].
Maka keadaan itu terus berlangsung sampai ia meninggal dunia.
GABUNG YUK di FP Sahabat QALBU Cahaya Jiwa ada banyak kata HIKMAH, RENUNGAN dan MOTIVASI.
Ajak sahabat yanng lainnya bergabung
insya Allah Bermanfaat
https://www.facebook.com/MutiaraAirMataMuslimah/posts/566258290065643
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/hanya-kepada-mu-kami-berlindung/