Assalamu'alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush
Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat
mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga
poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu
dari tiga keadaan:
1- Ia mendapat
curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk
bersyukur. Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti
seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski
kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah: a- Mengakui
dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah. b-Mengucapkannya dengan lisan.
c-Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah
yang memberikannya.
Inilah rukun-rukun syukur yang
mesti dipenuhi
2- Atau, boleh
jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah
bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal: a-Menahan hati dari
perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah. b-Menahan lisan
dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. c-Menahan anggota badan
dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting
pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ thd
keputusan Allah.
Perlu kita pahami bahwa Allah
menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk
mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan
sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya
Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah
peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.
Banyak orang yang ringan untuk
melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan
keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe
kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.
Ibnul Qayyim lantas mencontohkan
bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik
yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah
ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim
dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk
ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe
kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah
ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada
Khaliqnya.
Oleh sebab itu, Allah berjanji akan
mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,
أَلَيْسَ
اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah-lah yang
mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?” (QS. Az Zumar: 36).
Tingkat kecukupan tersebut tentulah
berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi
ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus
mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan
yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi
oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ
عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا
“(Sesungguhnya, engkau (Iblis)
tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai
Muhammad) sebagai wakil (penolong)” (QS. Al Isra’: 65).
Hamba-hamba yang dimaksud dalam
ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat
sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah,
baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang
terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan
menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.
Sebab bagaimana pun juga, setiap
manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia.
Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang
benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan
terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak
bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan
melakukan pelanggaran.
dengan demikian, ia akan beralih ke
kondisi berikutnya:
3- Yaitu begitu ia
melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini
merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia
hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang
dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari. Ibnul
Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang
mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “Seseorang mungkin melakukan
suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan,
yang karenanya ia masuk Neraka”. Bagaimana kok begitu? Bila ALlah
menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam
suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal
shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik
jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa
semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian
ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan
maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia
terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang
boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.
Namun sebaliknya orang yang
melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut.
Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti
itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’.
Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk
taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.
Demikian kurang lebih penuturan
beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan
yang bersahaja ini.
Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib,
Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan.
Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros:
Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu
dari tiga keadaan:
1- Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga
dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. Syukur memiliki
tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba
dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya
masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah: a- Mengakui dalam
hati bahwa nikmat tersebut dari Allah. b-Mengucapkannya dengan lisan.
c-Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena
Dia-lah yang memberikannya.
Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi
2- Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai
ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu
sendiri meliputi tiga hal: a-Menahan hati dari perasaan marah, kesal,
dan dongkol terhadap ketentuan Allah. b-Menahan lisan dari berkeluh
kesah dan menggerutu akan takdir Allah. c-Menahan anggota badan dari
bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting
pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’
thd keputusan Allah.
Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia
ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana
penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah
peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya
Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan
sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.
Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama,
karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi
yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering
kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.
Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas
menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik yang dicintai, memberi
nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian
pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan
menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk
ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan
ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang
pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan
penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.
Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?” (QS. Az Zumar: 36).
Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat
penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya
demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan
pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan
kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan
termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا
“(Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas
hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil
(penolong)” (QS. Al Isra’: 65).
Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang
mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka
yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi
menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari
gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan
menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah
saja.
Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari
gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan
bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar
merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan
terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya
tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan
syaithan dan melakukan pelanggaran.
dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:
3- Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia
memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar
biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang
bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang
dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari.
Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi
yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “Seseorang
mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia
mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”. Bagaimana kok begitu? Bila
ALlah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya
terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih
dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan
matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu
gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena
dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan
Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta
bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari
penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh
jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk
Jannah.
Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa
jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum
dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman
ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila
Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat,
niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.
Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.
Dari artikel Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar — Muslim.Or.Id by null
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
AYAT ALQURAN TENTANG SYUKUR
14. 6:53. Dan demikianlah
telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian
mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata:
"Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah
kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui
tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?"
“Jika kalian ingkar,
sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada
hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az Zumar: 7)
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
AYAT ALQURAN TENTANG SYUKUR
14. 6:53. Dan demikianlah
telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian
mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata:
"Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah
kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui
tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?"
“Jika kalian ingkar,
sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada
hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az Zumar: 7)
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar
Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas
tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa
kehidupan manusia
berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar.html
Kisah Nyata Doa Terkabul – “Kesabaran Berlapis”
“Kedudukan sabar dalam agama bagaikan kepala bagi jasad.
Jika kepala putus, badan pun akan hancur”.
— Ali bin Abi Thalib —
http://syaamilquran.com/kesabaran-berlapis.html
http://sabarsyukur.blogspot.com/
http://filsafat.kompasiana.com/2012/05/11/kunci-kehidupan-itu-sabar-dan-syukur/
http://dedi5611.blogdetik.com/perihal/
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Hakikat Sabar
Terkadang kita belum memahami arti kesabaran hingga kita tidak dapat
merasakan kesabaran itu sendiri. sabar bukan kata benda, yang begitu
saja ada dalam diri kita, sabar adalah kata
kerja, sesuatu hal yang harus kita upayakan, namun apa itu sabar dan bagaimana ?
Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah
seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan
ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim
rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala
bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi
kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)
“Sabar adalah
meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari
perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan
sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul,
hal. 24)
http://asshobru.wordpress.com/hakikat-sabar-bag-i/
Sabar, Syukur, Dan Ikhlas
http://tiny26.wordpress.com/2012/02/12/sabar-syukur-dan-ikhlas/
http://dedi5611.blogdetik.com/perihal/
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Sabar, Syukur, dan Istighfar
“Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang
telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar
aku mengerjakan kebajika
n yang Engkau
ridhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan
hamba-hambaMu yang shalih.” (Doa beliau ini merupakan kutipan dari
firman Allah di surat An-Naml, ayat 19).
“Jika kalian bersyukur maka
sungguh Aku akan tambahkan untuk kalian, dan jika kalian kufur,
sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)
http://fauzinurrahman.blogspot.com/2012/01/sabar-syukur-dan-istighfar.html
Syukur dan Sabar
Hidup seorang muslim hendaknya selalu berada pada dua hal:
Hal bersyukur dan sabar. Jika ia sehat, ia bersyukur dan gunakan
kesehatannya untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat.
Sebaliknya, jika sakit, ia ikhlas dan bersabar sambil terus menerus
berusaha mengobatinya, disertai dengan sikap tawakal pada Allah.
Ia sadar, Allah-lah zat yang mampu menyembuhkan penyakitnya.
Dalam kaitan ini Allah berfirman :
" (Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang
memberi petunjuk. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan
minum kepadaku. dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan
aku. Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan
aku (kembali). Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni
kesalahanku pada hari kiamat." - Asy Syu'araa'; 26: 78 -82.
http://sabarsyukur.blogspot.com/2009/04/syukur-dan-sabar.html
Penjelasan Sabar, Syukur, dan Istighfar oleh Ibnul Qayyim
Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas
tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. ibnul qayyim mengatakan
bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan
Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:
http://fanni.suyuti.com/2012/07/penjelasan-sabar-syukur-dan-istighfar-oleh-ibnul-qayyim/
http://dedi5611.blogdetik.com/perihal/

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Syukur Dalam Perspektif Al-Qur’an
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan
Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. [32:9] Kemudian Dia
menyempurnakan dan me
niupkan ke dalamnya
roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan
dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. ‘’Dan mereka
memperoleh manfaat padanya manfaat-manfaat dan minuman maka mengapakah
mereka tidak bersyukur???’’(Yasin : 73).
http://zahraassita.wordpress.com/2007/12/04/syukur-dalam-perspektif-al-quran/
"Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang
mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, 'Keluarlah kamu dari
surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa
di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka
Jahanam dengan kamu semuanya'." (Q.s. al-A'raf: 17-8).
http://id.harunyahya.com/id/books/563/BEBARAPA_RAHASIA_AL_QUR%E2%80%99AN/chapter/2015
Definisi Syukur Menurut Al-Quran
Syukur (Ar:asy-syukr = ucapan, perbuatan, dan sikap terima kasih atau
al-hamd; pujian). Dalam ilmu tasawuf : ucapan, sikap dan perbuatan
terima kasih kepada Allah SWT dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan
kurnia yang diberikan-Nya.
http://msalleh.wordpress.com/2010/06/26/definisi-syukur-menurut-al-quran/
MAKNA SYUKUR DALAM ALQUR’AN
Syukur adalah ibadah yang sering ditinggalakan umat manusia banyak
manusai gelisah hidup dalam ketakutan, hidup yang dibayangi dengan
hal–hal yang tak mampu menikmati yang telah diberikan kepadanya, itu
semua karena tidak kenal arti syukur pada Allah, rosul dalam hadis
beliau yang pernah bersabda Orang yang paling syukur yang memiliki
kona’ah orang yang menerima pemberian Allah, orang yang miskin selamanya
adalah yang tak pernah mensyukuri nikmat Allah.
http://pustaka.wordpress.com/2009/10/07/makna-syukur-dalam-alquran/
Syukur memliki urgensi dan kedudukan yang agung. Ibarat tali, syukur
mengikat nikmat-nikmat yang ada dan menarik nikmat-nikmat yang belum
ada. Dilihat dari kedekatannya, syukur dan iman bagaikan saudara
kandung. Seperti halnya kufur sebagai saudara kandung ingkar. Allah
berfiman “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman,
yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur
(kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri;
dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya
lagi Maha Terpuji” (Qs Luqman :12)
http://mediaamalislami.wordpress.com/2011/06/16/syukur-dalam-al-quran/
http://pengumpulhikmah.blogspot.com/2012/07/keutamaan-syukur-kepada-allah-swt.html
http://dedi5611.blogdetik.com/perihal/